Raja Binongko Ke-IV (La Soro/Kapitan Waloindi/1566 – 1599M)
5:07 PM
Ada keunikan tersendiri mengenai sejarah Raja Binongko yang ke-IV ini.
Sebab ada beberapa sumber lisan masyarakat Binongko yang mengatakan bahwa Raja
Binongko yang ke-IV adalah bernama La Soro dan ada pula yang mengatakan bahwa
bernama La Hatimura/LaMura dan Kapitan Waloindi. Namun disini penulis mencoba
untuk mensinergikan semua sumber-sumber
yang ada.
Dalam periodisasi perjuangan, memang La Soro/Kapitan Waloindi merupakan
pencatat sejarah perjuangan terpanjang dari raja-raja Binongko sebelumnya.
Sebab ia telah mecatat dua fase sejarah perjuangan terpenting, yaitu fase
pertama pada saat ia menjadi Raja Binongko Ke-IV, dimana Binongko masih
bersifat kerajaan tersendiri (belum berintegrasi dengan Buton) dan fase yang
kedua adalah pada saat Binongko sudah berintegrasi dengan Kesultanan Buton dan
berganti nama menjadi pemerintahan Lakina Wali (pemerintahan adat) sampai masa
penjajahan Belanda. Jadi, disini penulis mencoba meceritakan dua fase sejarah
perjuangan terpenting oleh La Soro/Kapita Waloindi.
Dikatakan dalam Culadha Tape-Tape (tradisi lisan) bahwa,
La Soro lahir pada abad ke-16 dan merupakan anak dari pasangan La Mentulu Alam
(orang Binongko) dengan Wa Pariama (orang Buton Wolio), dan ia memiliki seorang
saudara perempuan bernama Wa Moilu. Diketahui, pada masa pemerintahan Raja
Binongko Ke-II, La Soro pernah ke Binongko dan ia datang dari Mongol
(Tiongkok/China). Maksud kedatangannya pada saat itu ialah untuk menemui
sudaranya Wa Moilu bersama orang tuanya yang sudah lama berpisah. Ketika sampai
di Pulau Binongko, La Soro bertemu dengan Raja Binongko yang ke-II (La Kakadhu)
dan La Soro mengatakan bahwa ia merupakan salah satu cucu Raja Wali Sumahil
Tahim Alam yang lahir di tanah barat. (La Rabu Mbaru, Wawancara, 31 Maret 2017).
Pada tahun 1566 La Soro diangkat menjadi Raja Binongko
yang ke-IV, menggantikan La Bherese (Raja Binongko ke-III 1545-1566). Pada masa
pemerintahannya, ada beberapa kerajaan yang berkeinginan untuk menguasai
wilayah Kerajaan Binongko, diantaranya adalah Kerajaan Buton dan bajak laut
dari Tobelo serta Ternate. Tapi La Soro dengan semangat serta kegigihannya, ia
berhasil mempertahankan wilyah Binongko dari serangan musuh. Atas kegigihannya
La Soro mendapat julukan sebagai Kapitan Waloindi yang berarti kesatria dan
pelindung bagi rakyat Binongko. (La Rabu Mbaru, Wawancara, 31 Maret 2017).
Selain sebagai Raja Binongko Ke-IV, ia juga memiliki
kepandaian menempa besi atau membuat peralatan dari besi dan kemudian
mewarisikannya kepada rakyat Binongko tentang cara untuk membuat peralatan dari
besi, seperti piso/soka (pisau) dan pade/kabali (parang). La Soro juga mendapat gelar nama sebagai La
Hatimura atau La Mura, yang artinya seseorang yang berhati mulia dan suka menolong. Sebagai Raja
Binongko, La Soro memerintah dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab dan pada
tahun 1599 M La Soro atau Kapitan Waloindi menyerahkan kekuasaan kepada La
Matameha.
Fase kedua adalah setelah Binongko berintegrasi kedalam wilayah imperium
kekuasaan Kesultanan Buton, La Soro/Kapitan Waloindi diutus oleh Sultan Buton
untuk menjadi Lakina Kaledupa, tetapi gagal. Kegagalan itu disebabkan sikap politik penguasa Buton yang mulai bekerjasama dengan
Belanda yang dituangkan dalam perjanjian Schot-Elangi tanggan 5 Januari 1631,
mengakibatkan ia mulai menanam benih-benih kebencian dan amarah terhadap
penguasa Buton dan Belanda. Kebencian itu bertambah ketika Perang Kapahaha (1634-1636) di
Ambon yang mengakibatkan kebun cengkeh dan palah di ambil alih oleh VOC.
Kebencian itu memuncak ketika ditandatanganinya
perjanjian antara Buton dan VOC pada tanggal 31 Januari 1667 yang mewajibkan
penebangan semua pohon cengkeh dan pala yang ada di Kepulauan Tukang Besi,
terutama di Pulau Kaledupa dan Wangi-Wangi, dengan ganti rugi yang harus
dibayar kepada Buton setiap tahun sebesar 100 ringgit. Dinyatakan dalam
perjanjian itu pula, bahwa Pulau Binongko yang senantiasa menjadi perebutan
antara Buton, Makassar, dan Ternate, dinyatakan langsung dan masuk dalam daerah
kekuasaan kompeni Belanda. Karena perjanjian yang nyata-nyata sangat merugikan
rakyat Kepulauan Tukan Besi itu, maka Kapita Waloindi mulai mempropagandakan
semangat anti penjajahan dan menggerakkan perlawanan rakyat terhadap penguasa
Buton dan VOC/Belanda.
(Ali Hadara, 2007).
Serangan demi serangan yang dilancarkan oleh penguasa
Buton dan dibantu oleh VOC/Belanda, namun serangan itu selalu mendapat
perlawanan sengit dari masyarakat Binongko yang dipimpin oleh Kapita Waloindi.
Hal itu membuat penguasa Buton tidak
kehilangan akal. Pada serangan berikutnya, Sultan Buton mengutus Sapati Baluwu
untuk mengadakan perang tanding dengan Kapitan Waloindi. Namun, ternyata mereka
sama-sama kuat dan tidak terkalahkan, maka Kapita Waloindi menyerahkan telapak
kakinya untuk ditusukkan Piso Tobho Gelo
(keris). Kemudian tempat pertarungan adu kekuatan antara Kapitan
Waloindi dengan Sapati Baluwu, kini dinamakan Pantai Palahidu (Pala: telapak kaki dan hidu: hayat/hidup).(La
Rabu Mbaru, Wawancara, 31 Maret
2017).
Pada tahun 1680M La Soro/Kapitan
Waloindi Wafat dan saat ini nama Kapitan Waloindi telah diabadikan menjadi nama
sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, yakni Desa Waloindi.
Daftar Pustakan:
Post a Comment